Langit di atas Benua Beihan mendadak bergetar hebat, setelah Lynx meningkatkan kekuatan ilusi pakaiannya dan membuka sedikit segel energi saktinya, seolah alam menyadari bencana yang akan datang. Hembusan angin dingin dari pegunungan berubah menjadi pusaran badai, mengangkat salju dan pecahan es ke langit. .

"Tingkat Akhir..." suara para Immortal yang berdiri di sisi luar terdengar berat dan ketakutan. "Teknik kita meski bersama-sama menyerangnya tidak akan mampu mengalahkannya."

Leluhur Sekte Salju Hitam yang tertua menatap tajam pada Huo Yanjin. "Huo Yanjin, waktunya kau menggunakan teknik rahasiamu." Suaranya serak tapi penuh tekanan, menuntut keputusan segera.

Huo Yanjin mengangguk pelan, lalu menoleh pada seluruh rekan sekte dan sekutu mereka. "Kalian semua, bantu aku. Saatnya menggunakan teknik rahasia yang telah kupersiapkan selama bertahun-tahun. Alirkan semua kekuatan kalian padaku. Hari ini, dunia akan tahu kekuatan sejati Sekte Salju Hitam."

Satu demi satu leluhur dari berbagai sekte melangkah kebelakang Huo Yanjin mengikuti instruksi dari Huo Zhenzai, leluhur Sekte Salju Hitam yang paling senior. Huo Zhenzai dan dari Sekte lainnya yaitu Kabut Dingin dua Immortal, dari Sekte Phoenix Hitam dua Immortal, dari Sekte Lembah Gelap dua dua Immortal, dan dari Sekte Gunung Giok satu Immortal, mereka membentuk lingkaran formasi yang memancarkan garis-garis cahaya biru pucat di udara, melilit bagaikan naga es yang terbang mengitari langit dan masuk ke tubuh Huo Yanjin.

Huo Leiyan, ketua Sekte Salju Hitam, mengangkat pedang barunya yang terlihat bersinar lebih pucat daripada pedang semula menandakan kekuatan pedang tersebut dibawah pedang yang hancur sebelumnya. "Para Grandmaster, salurkan juga kekuatan kalian padaku!" teriaknya, suaranya memantul di pegunungan, menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Riak kekuatan spiritual meledak dari tubuh para kultivator, mengalir dalam garis formasi, masuk ke tubuh Huo Yanjin yang menjadi pusat pusaran energi. Udara bergetar, tanah retak, dan langit di atas mereka berubah kelabu pekat, seolah hendak runtuh. Dari kekuatan yang terkumpul, Huo Leiyan mentransfer dengan teknik khusus kepada leluhurnya agar kekuatan serangan gabungan menjadi semakin besar.

Selama ini, Sekte Salju Hitam memendam ambisi untuk menjadi sekte terkuat di Benua Beihan. Diam-diam mereka meneliti teknik gabungan baru yang melampaui formasi konvensional, sebuah jurus yang memungkinkan siapa pun dari ranah apa pun menyalurkan kekuatannya untuk menciptakan satu serangan mutlak. Serangan ini diklaim cukup kuat untuk menghancurkan seluruh Benua Beihan. Hari ini, mereka bertekad menggunakannya untuk menyingkirkan sosok yang berdiri di hadapan mereka, sekaligus mengukir nama mereka dalam sejarah.

Getaran makin keras. Batu-batu es raksasa di sekitar Sekte Pedang Es terangkat ke udara, berputar dalam pusaran energi. Para murid Sekte Pedang Es yang melihat fenomena itu pucat pasi.

"Tidak... formasi pelindung kita tidak akan mampu menahan ini..."

"Bagaimana kita bisa menghadapi kekuatan seperti itu..."

Kepanikan menyapu halaman sekte. Beberapa murid mulai menangis, yang lain gemetar memeluk pedang mereka. Namun suara ketua Sekte Pedang Es bergema lantang di tengah badai qi yang menderu. "Tenanglah semua! Jiwa ksatria adalah napas kita. Jika harus gugur, kita gugur dengan kehormatan. Hingga titik darah terakhir, kita pertahankan nama baik sekte ini!"

Bersama para leluhur, sang ketua membentuk perisai spiritual yang berlapis-lapis, memantulkan cahaya biru yang bergetar hebat setiap kali gelombang tekanan menghantamnya. Leena ikut bergabung, tubuhnya memancarkan aura api yang berputar di sekitarnya, membantu menahan tekanan yang seolah hendak meremukkan seluruh gunung.

Di langit, Lynx melayang santai, kedua tangannya bersedekap di dada, tatapannya tenang namun tajam menembus pusaran energi di depannya. Suara telepati Leena tiba-tiba terdengar di telinganya, hangat namun juga tegang. "Sayang... apa yang kau lakukan? Mengapa hanya diam saja?"

Lynx menoleh perlahan ke arah Leena, matanya memantulkan kilau langit yang bergejolak. "Tadinya aku ingin menghajar mereka semua agar kapok," ucapnya santai melalui telepati, suaranya terdengar seperti percakapan biasa meski dunia sedang nyaris runtuh. "Tapi aku mendadak penasaran setelah mereka bilang punya teknik rahasia. Aku ingin melihat sejauh mana mereka berani, sekaligus membuat mereka menyerah sepenuhnya dengan menghancurkan teknik gabungan itu di puncaknya."

Ia menghela napas panjang, seolah sedang menunggu pertunjukan yang membosankan. "Hanya saja aku tidak menduga teknik itu butuh persiapan selama ini. Mana ada orang waras yang mau berdiri diam menunggu serangan datang. Kalau dalam sepuluh hitungan mereka tidak selesai, aku akan turun tangan memberi mereka semua pelajaran."

Leena menunduk, menahan tawa di tengah tekanan yang bisa membunuh kultivator biasa. "Konyol... sifat jailnya masih muncul juga. Aku merindukan sisi ini," batinnya hangat, namun matanya berkaca-kaca karena sadar Lynx kini memikul beban besar sebagai kepala suku Surya.

Di samping, para leluhur Sekte Pedang Es sempat heran melihat Leena tersenyum kecil di tengah ancaman kiamat. Namun senyum itu segera memudar, berganti kesedihan yang dalam. Para leluhur meski penasaran namun harus mengabaikan hal tersebut dan kembali fokus menahan badai kekuatan yang terus meningkat. Sementara itu, pusaran energi di langit semakin membesar, cahaya biru dan putih saling bertabrakan, menandai lahirnya serangan gabungan yang bisa menghapus satu benua dari peta dunia.

Pusaran energi di langit berputar semakin cepat, menelan cahaya matahari dan memunculkan kilau biru keperakan yang menyilaukan. Awan-awan di sekitarnya tersedot membentuk spiral raksasa, dan suara gemuruh mirip guntur suci terdengar memecah langit. Suhu udara turun drastis, bahkan api milik Leena yang menyelimuti lapisan formasi pelindung sempat berkedip redup karena tekanan spiritual yang mendominasi udara.

Huo Yanjin mengangkat kedua tangannya ke atas, tubuhnya diselimuti kabut es pekat yang berkilauan. Suara retakan tulang terdengar dari tubuhnya ketika energi luar biasa memaksanya berada di puncak batas kekuatan. Mulutnya bergetar, lalu teriakan kerasnya menggema di seluruh Benua Beihan.

"Plasura, rasakan ini!"

"Frozen Calamity Heaven!"

Seruan itu membuat pusaran energi di atasnya tiba-tiba memadat menjadi bola raksasa berwarna biru muda yang bersinar seperti matahari es. Dari dalamnya muncul semburan-sambaran kilat beku yang menari liar. Setiap kilat yang jatuh membekukan tanah, memecahkan batu, dan menghancurkan formasi pelindung sekte yang lapis demi lapis retak.

Bola energi itu berputar, lalu membuka celah seperti kelopak bunga es raksasa. Dari pusatnya melesat ribuan tombak es berlapis petir beku, masing-masing sebesar pohon raksasa, meluncur ke arah Lynx. Setiap tombak es meninggalkan jejak kabut dingin yang membekukan udara, dan ledakan sonik memecahkan gendang telinga para murid Sekte Pedang Es.

Tidak berhenti di situ. Ketika tombak-tombak es melesat, dari bola energi itu juga keluar pusaran angin es yang berputar membentuk naga putih transparan. Suara raungannya bergema di langit, menggetarkan jiwa semua orang yang mendengarnya. Naga itu meluncur ke arah Lynx, seolah membawa kehancuran yang bisa melahap seluruh sekte dan pegunungan di sekitarnya.

Langit di atas Sekte Pedang Es membeku seperti kristal. Salju tidak lagi turun perlahan, melainkan tertahan di udara, membentuk duri-duri es yang siap jatuh kapan saja. Daratan di sekitar sekte retak dan membeku dalam sekejap, sungai-sungai es tiba-tiba muncul dari uap air yang membeku di udara.

Semua mata tertuju pada Lynx yang berdiri di tengah langit, terlihat kecil di hadapan bencana surgawi itu. Para murid dan tetua menahan napas, sebagian menutup mata karena tidak sanggup membayangkan bagaimana sosok itu bisa selamat dari serangan sebesar itu.

Leena menggigit bibirnya, tangan yang memegang pedang bergetar. Ia ingin terbang menghampiri Lynx, tetapi tekanan dari teknik gabungan itu terlalu besar, membuat tubuhnya seolah tertahan oleh dinding tak terlihat.

"Lynx..." bisiknya dalam hati, tiba-tiba saja dia merasakan kegelisahan dan kekhawatiran karena tidak menduga kekuatan gabungan lawannya jauh lebih kuat dari yang dia perkirakan. Dia sempat ragu sejenak dengan kekuatan yang dimiliki Lynx karena ini adalah pertama kalinya Lynx menghadapi kekuatan sebesar ini. Namun setelah melihat wajah Lynx yang tenang, Leena mulai dapat menenangkan dirinya.

Dari atas, suara Lynx terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang diterbangkan angin, namun entah bagaimana terdengar jelas di telinga semua orang.

"Akhirnya... kalian selesai menyiapkan pertunjukan kecil ini."

"Baiklah, kita mulai" ucap Lynx dengan nada tenang, namun matanya berkilau tajam seperti bilah pedang yang siap menebas langit.

Awalnya ia berniat mengayunkan pedang kehancuran untuk membelah dan menghancurkan serangan dahsyat yang meluncur ke arahnya. Namun, sekelebat pikiran membuat tangannya terhenti. Jika ia menggunakan pedang dan mengeluarkan energi pedang, dampaknya bisa meluas, menghancurkan gunung, memecahkan lembah, dan membunuh banyak kultivator yang sebenarnya tidak ingin ia binasakan. Lynx menghela napas pendek, menahan dorongan untuk melepaskan kekuatan itu.

Dari berbagai penjuru, ribuan pasang mata terpaku padanya. Sosok Plasura yang misterius dan terlihat menakutkan, justru tidak menghindar sedikit pun. Ia malah mencondongkan tubuh ke depan dan melesat menyambut serangan gabungan yang turun bagaikan kutukan langit. Salju dan es beterbangan di sekelilingnya, tubuhnya melesat menembus pusaran badai yang hendak menghancurkan dunia.

Dalam gerakan yang terlihat sederhana, ia mengepalkan tinjunya. Otot-otot lengannya bergetar halus, memancarkan ilusi cahaya biru samar dari sela-sela sarung tangannya yang tampak seperti logam hidup. Tinjunya diarahkan langsung ke inti serangan gabungan itu, seolah ingin meremukkan puncak bencana itu dengan satu pukulan.

Para musuh yang berdiri di belakang formasi gabungan menatap tak percaya. Sesaat mata mereka membesar, lalu teriakan penuh kegirangan meledak dari kerumunan.

"Matilah kau, Plasura!"

"Dia benar-benar gila! Menyambut kekuatan gabungan kita dengan tangan kosong!"

Mereka bisa merasakan bagaimana pusaran energi gabungan itu menyerap aura spiritual di sekitarnya, menindas udara, memecahkan tanah, dan menggetarkan jiwa siapa pun yang melihatnya. Dalam pikiran mereka, tidak ada kemungkinan bagi sosok itu untuk selamat. Tubuhnya pasti akan lenyap, menjadi serpihan debu di antara kilatan es dan naga putih yang mengamuk di langit.

Namun di tengah teriakan para musuh, wajah Lynx tetap tenang, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang benar-benar memperhatikannya. 

